Wacana Sistem Baru Penerimaan Anggota Polri

Standar

Tanyalah pada anak-anak SD tentang cita-cita. Mengenai beragam dimana menjawab ingin jadi adalah polisi. Barangkali, di dalam benak mereka, jadi seorang polisi merupakan kebanggaan. Berseragam, gagah, kemudian menegakkan keadilan. Suatu yg sempurna untuk anak-anak.

Segenap rakyat masyarakat masih menganggap jadi adalah polisi merupakan suatu pekerjaan yg prestisius, barangkali anggapan masa kanak-kanak dulu yang membawa pengenalan ini hingga memerankan cukup umur, tengah menganggap yakni profesi polisi adalah profesi yang amat luar konvensional.

Antusiasme rakyat waktu dibuka pendaftaran polisi selalu banyak, anak-anak muda banyak registrasi menjadi bintara dan mendaftar Akpol. Seolah-olah segenap ketika yg setelah itu ketika pada sebuah perjalanan melalui Cilacap menuju Semarang, aku menjumpai sekelompok putera dimana jadi mengikuti seleksi bintara Polri pada Semarang. Semangat lalu optimisme terpancar untuk wajah-wajah mereka. Malah gak selap di perjalanan itu mereka mempelajari dzikir-dzikir terpilih yang diberikan akibat kiyai, demi cita-cita lolos seleksi polisi. Tetapi miris sewakti dalam salah satu pembicaraan mereka berdiskusi akan, siapa saja dalam ‘membawa’, / berapa diharuskan bayar. Tersebutlah pangkat-pangkat AKBP serta nominal-nominal puluhan juta rupiah. Serta andai tidak lolos jadi dollar itu tidak menghasilkan dikembalikan.

Ya, terkadang sudah jadi rahasia publik kalau ingin hadir polisi diharuskan bayar nominal terpilih. Walaupun\ berkali-kali pihak Polri telah mengumumkan tak nyata pungutan lainnya dalam rekrutmen anggota Polri, ratusan spanduk dipasang, lalu bantahan-bantahan selalu pergi dari yang Mabes Polri, akan tetapi tentu pun, masyarakat mengecek sendiri praktik-praktik tersebut.

Oknum-oknum yg melakukan perkara di sini. \ kelihatannya berani menjalankan praktik sekarang apabila mereka tidak mendapatkan dulk? terjaga. Malahan ditengah tuntutan reformasi Polri dimana makin gencar dan kesan Polri dimana telah jatuh ditangah rakyat. Pertanyaannya adalah, darimana mereka merasa aman melkukan praktik pungutan-pungutan indonesia? Dulk? damai dalam dimiliki seseorang di proses suatu sesuatu dimana melanggar hukum kelihatannya disebabkan oleh perdana; lemahnya penegakkan hukum ataupun tindakan tuk mereka yg suah tertangkap tangan, kedua ialah adanya backingan melalui kelompok atasan.

Ditengah gelora reformasi calontaruna.com kali ini indonesia, rasanya amat berat bila rekrutmen memebr Polri tena terdapat praktek seolah-olah terkait. Akan paling sulit mengubah kultur andai anggota-anggota anyar sudah terkontaminasi urusan berbau KKN, malahan semenjak tahap penerimaan.

Pemecahan masalah dalam terbagus menurut aku yaitu dengan membersihkan struktur rekrutmen. Suatu hal yang sungguh-sungguh pelik bila berharap pembersihan berasal dari di dalam Polri sendiri, mengingatkan kultur terkait kelihatan sudah mengakar. Salah 1 opsi terbaik merupakan menyerahkan seleksi member Polri kepada kelompok ketiga. Lebih kurang BUMN suah melangsungkan rum indonesia. Disini Polri semata-mata menghuni menerima keuntungan seleksi calon membet Polri melalui pengurus seleksi dimana independen. Pasti tertentu keseluruhan kriteria ditentukan dengan Polri sebagai pengguna.

Consignée indonesia akan dapat menekan praktek kecurangan dimana kerap mewarnai penerimaan member Polri anyar. Hanya ditunjuknya kelompok ketiga yg tetao menyeleksi SDM pantas oleh kriteria Polri oleh sebab itu diminta sistem seleksi menghasilkan transparan kemudian dapat dipantau akibat kita semua. Seorang langkah awal membentuk polisi dalam bersih setelah itu diterima masyarakat.

referensi :
www.calontaruna.com
https://id.wikipedia.org/wiki/Kepolisian Negara Republik Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s